Pengertian Suhuf

  • 3 min read
  • Jan 09, 2021
Pengertian Suhuf

Pasti Anda pernah mendengar saat Anda masih Apa Sih atau saat ini sedang di bangku sekolah pernah mendengar kalimat “suhuf”.

Saat di mata pelajaran Agama Islam terdapat materi yang menerangkan bahwa Allah menurunkan kitab dan suhuf kepada para  Nabi.

Lalu apa pengertian Suhuf sendiri ? Apa yang mebedakan suhuf dengan kitab? Silahkan simak bahasan lengkapnya yang telah kami dapatkan dari laman Cyptowi.com berikut.

Pengertian Suhuf Beserta Nabi yang Menerima

Suhuf merupakan kata dalam Bahasa Arab yang memiliki arti lembaran. Sama seperti kitab Allah, suhuf jugu berisi firman Allah yang diberikan kepada para Nabi dan RasulNya. Salah satu kitab yang akan saya jadikan acuan adalah Al-Qur’an.

Dulu sebelum Al-Qur’an menjadi sebuah buku atau kitab yang saat ini sering Anda lihat dan baca sebelumnya bentuknya masih berupa suhuf atau lembaran-lembaran. Lembaran tersebut bukan hanya berupa kertas tapi juga lembaran lainnya yang digunakan sebagai media untuk menulis.

Media menulis yang digunakan dapat dilakukan di batu, kulit ternak hingga diatas pelepah kurma. Sampai saat semua surah-surah yang terdapat didalam Al-Qur’an lengkap barulah seluruh lembaran-lembaran tersebut dijadikan satu dalam satu buku yang disebut kitab Al-Qur’an.

Pengertian Suhuf memiliki isi hukum-hukum sebagai petunjuk dan  pedoman untuk menyerukan dan menyebarkan agama Allah kepada hambaNya sebagai perantaranya adalah Nabi dan Rasul.lah Nabi dan Rasul. Berikut Nabi-nabi yang diberikan amanah atasnya, namun tidak disatukan berupa kitab :

  1. Nabi Adam a.s

Nadi Adam diberikan 10 suhuf

  1. Nabi Syits a.s

Mendapat 60 suhuf, namun terdapat pendapat lain bahwa Nabi Syits a.s mendapat 50 suhuf

  1. Nabi Idris a.s

Menerima 30 suhuf

  1. Nabi Ibrahim a.s

Penerimaan 30 suhuf untuk Nabi Ibrahim a.s di abadikan oleh Allah lewat FirmanNya yang tercantum pada Surah Al’A’la (14-15) dan An-Najm (36-37).

  1. Nabi Musa a.s

Sebanyak 10 suhuf yang diterima oleh Nabi Musa yaitu Nabi setelah Nabi Ibrahim a.s juga diabadikan oleh Allah SWT di firmannya yang tercantum pada surat dan ayat yang sama.

Isi surah yang menyebutkan penerimaan suhuf oleh Nabi Musa a.s dan Ibrahim, berbunyi :

Ataukah belum ada berita kepadanya apa yang terdapat dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?” (An-Najm:36-37)

Dari penjelasan diatas mungkin ada pertanyaan baru yaitu perbedaan dari Suhuf dan Kitab yang notabene sama-sama diturunkan oleh Nabi dan Rasul Allah SWT.

Perbedaan Antara Kitab dan Suhuf

Perbedaan yang terdapat antara Kitab dan Suhuf merupakan pada penyampaiannya

Kitab merupakan lembaran wahyu Allah SWT kepada RasulNya yang wajib diajarkan kepada seluruh umat manusia sebagai pedoman hidup dan telah bukukan, terdapat 4 kitab yang telah diturunkan oleh Allah SWT, yakni Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an.

Keempat kitab yang diturunkan ole Allah SWT ini memiliki perbedaan yang terdapat pada sifatnya. Kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur’an memiliki sifat lokal yang berisi ajaran sederhana. Sedangkan Al-Qur’an memiliki sifat yang menyeluruh atau universal dan abadi sepanjang masa serta memiliki cakupan ajaran yang luas.

Kitab-kitab Allah memiliki fungsi untuk membantu manusia dalam meyakini adanya keberadaan Allah SWT beserta ajaran-ajarannya. Perilaku yang mencerminkan keimanan diri terhadap kitab Allah SWT yaitu :

  1. Meyakini dengan sebenarnya bahwa Kitab datang dari Allah SWT.
  2. Menjadikan Kitab Allah sebagai pedoman khusus dan utama di dalam kehidupan.
  3. Memahami dari isi kandungan yang terdapat di Kitab Allah.
  4. Mengamalkan apa yang ada di isi Kitab dalam kehidupan sehari-hari.

suhuf sendiri diturunkan kepada Rasul dan NabiNya namun tidak wajib diajarkan kepada umat manusia. Didalam Al-Qur’an telah dijelaskan kebenarannya mengenai keberadaan suhuf atau sahifah (halaman/lembaran) yang berjumlah sebanyak 100 sahifah. Isi ajaran yang terdapat dalam suhuf cenderung sederhana

peran yang dimiliki oleh para Nabi dan Rasul Nya adalah sebagai jurus selamat bagi seluruh umat manusia, karena mereka diberikan amanah oleh Allah SWT untuk menerima dan menjalankan wahyu-wahyuNya sekaligus menyebarkannya demi keselamatan seluruh umat manusia dalam menempuh kehidupan duniawi dan akhirat nanti.